Followers

HIMPUNAN ULAMA THURATH SIRI 3

Wednesday, April 27, 2011

Habib Ali bin Ja'far Alaydrus, Batu Pahat-Malaysia.


 Teladan dalam Kezuhudan

Dikirim: [22/07/2010]

Belum hilang rasa sedih di hati atas wafatnya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, tersiarlah berita duka dari negeri jiran Malaysia. Kamis, 13 Mei 2010/28 Jumadil Ula 1431 H, sore menjelang maghrib, atau tepat 40 hari setelah Habib Abdul Qadir wafat, satu lagi pilar Bani Alawi, Habib Ali bin Ja'far bin Ahmad Alaydrus, atau yang sering disebut 'Habib Ali Batu Pahat', pergi menuju haribaan mulia Sang Pencipta.

Umat Islam kembali ditinggalkan seorang kekasih Allah yang mengajarkan kepada siapa pun bahwa di zaman yang sudah amat maju ini orang masih bisa hidup zuhud dan tawadhu. Dalam kesederhanaannya, ia mengarungi hidup dengan tegar.
Banyak di antara pecintanya ingin membangunkan rumah mewah sebagai kediaman yang layak bagi orang sebesar dirinya. Namun semuanya ia tolak secara halus. Demikianlah, setiap harinya dia mandi dan mengambil wudhu di kamar mandi yang bersatu dengan sumur tua dalam bangunan yang sangat sederhana.

Tanda keutamaan dalam dirinya sangat jelas. la adalah orang yang ketika wajahnya dipandang, dapat mengingatkan hati yang memandangnya kepada Allah SWT. Akhlaqnya amat luhur dan mulia, sebagai bias dari akhlaq datuknya, Baginda Rasulullah SAW.

Sikap zuhud terhadap dunia adalah hiasan terindah dalam kesehariannya. Begitu pula sifatnya yang teramat wara'.
Salah seorang kerabatnya dari Indonesia, yang masih terhitung cucunya, suatu saat mengunjunginya. Saat berada di sana, lewat jendela rumah sederhana itu, sang cucu memandangi buah kelapa yang menggantung di pohon kelapa di sisi rumahnya.
Memperhatikan hal itu, Habib Ali mendekat dan mengatakan kepadanya, "Kamu mau buah kelapa itu? Sebentar. Saya mintakan izin dulu sama si empunya tanah. Sebab, saya hanya menyewa rumahnya, tanahnya tidak ikut saya sewa." Subhanallah. Rumah sederhana yang ia tempati itu pun ternyata rumah sewaan, bukan rumah miliknya.
Sangat Memuliakan Tamu

Hatinya begitu lembut. la tak ingin ada sedikit pun rasa kecewa tumbuh di hati orang yang mengunjunginya. Di rumahnya yang amat sederhana, kecil, dan sempit itu, sedemikian rupa ia muliakan setiap tamu yang datang. Semua ia terima dengan penerimaan yang menyenangkan hati, tak peduli rupa apalagi harta. Berjumpa dengan sosok bersahaja itu, hati pun serasa menjadi lapang seketika.
Ruang tamunya pun tak pernah kosong dari ratusan botol kemasan air mineral para tamu yang berharap keberkahan dari doa-doa yang ia lafalkan. Meski amat banyak untuk ukuran seorang yang sudah sesepuh Habib Ali Batu Pahat, ia mendoai satu per satu air itu dengan penuh kekhusyu'an.

la amat santun kepada setiap tamunya. Kaya, miskin, ulama, ataupun awam. Siapa pun.
Meski hidup sederhana, ia bahkan hampir selalu memberikan uang kepada para tamunya. Jumlahnya terkadang tidak kecil. Jika mereka berkunjung pada jam makan, tak mungkin tamunya diizinkan pulang sebelum mereka makan bersamanya.

Sifat rendah hatinya kepada setiap tamunya amat mengagumkan. Sebelum sang tamu pulang, orang semulia dirinya ini justru selalu meminta doa dari mereka.

Kelahiran Purwakarta
Ayah Habib Ali, Habib Ja'far bin Ahmad Alaydrus, datang ke Singapura dari Purwarkarta dan menetap di Negeri Singa itu selama beberapa tahun pada dekade tahun 1930-an dan tinggal di Lorong 30 Geylang. Habib Ja'far kembali ke Hadhramaut pada tahun 1938.

la wafat pada tahun 1976 di kota Tarim. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Zanbal, berdekatan dengan makam datuknya, Habib Abdullah Alaydrus.

Berdasarkan kisah yang disampaikan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah, ketika ayah Habib Ali ini masih dalam kandungan ibunya, kakeknya, Habib Abdul Qadir bin Salim, berkata kepada istrinya, Hababah Aisyah Assegaf, jika putranya Ahmad dikaruniai anak laki-laki, akan ia namai "Salim", mengikut nama orangtua Habib Abdul Qadir sendiri. Namun istrinya, Hababah Aisyah, tidak setuju dengan usulan itu dan ia ingin menamainya Ja'far, mengikuti nama datuk sang istri, Habib Ja'far bin Ahmad bin Ali bin Abdullah Assegaf.
Mendengar usulan sang istri, Habib Abdul Qadir mengatakan, ia bersedia menamainya "Ja'far" sekiranya tampak nyata kelebihan yang ada pada diri anak itu kelak.
"Baik, kamu akan lihat kelebihannya, giginya akan tumbuh sebelum waktunya," kata. Hababah Aisyah saat itu.

Habib Abdul Qadir menimpali kembali, "Kalau memang demikian, aku akan sembelih tujuh ekor kambing."

Pada saatnya, benar saja, yang terlahir adalah seorang anak laki-laki. Dan tiba hari ketujuh, hari untuk menyelenggarakan aqiqah sekaligus untuk memberikan nama pada sang anak, nyatalah apa yang dikatakan Hababah Aisyah. Gigi si cucu mulai terlihat. Maka, sang cucu pun dinamai "Ja'far".

Habib Ja'far kemudian tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga yang shalih dan alim. la juga kemudian dikenal sebagai seorang alim pada masanya. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah termasuk yang ber-istifadah (mengambil faidah ilmu) darinya.

Di antara karyanya, Habib Ja'far meninggalkan sebuah diwan (kumpulan qashidah) yang kini telah dicetak oleh penerbit Darul Ushul, Yaman.
Habib Ja'far bin Ahmad mempunyai 10 putra, yakni Abdullah, Abdul Qadir, Ali, Salim, ldrus, Thaha, Ahmad, Abubakar, Thahir, dan Alwi, serta beberapa putri. Di antara putri Habib Ja'far yang masih hidup pada saat ini adalah adik Habib Ali yang bernama Syarifah Gamar
Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa Habib Ali Batu Pahat ini kelahiran Nusantara, tepatnya di Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sebagian keluarganya saat ini juga masih berada di sana.

Tahun 1926, yaitu saat berumur tujuh tahun, ia tiba di Singapura. Tapi hanya sebentar, lalu ia kembali lagi ke Indonesia. Tahun 1929, untuk kedua kalinya ia datang ke Singapura dan kemudian menetap di sana hingga tahun 1942.

Di Singapura, ia tinggal bersama ayah dan kakaknya, Habib Abdul Qadir bin Ja'far Alaydrus, di sebuah rumah di Arab Street. Ketika itu sang kakak barn datang dari Hadhramaut. Berdasarkan cerita yang pernah disampaikan Habib Ali sendiri, kedatangan sang kakak mendapat sambutan yang amat hangat dari penduduk Singapura pada saat itu. Habib Abdul Qadir sendiri wafat di Purwakarta dan dimakamkan di sana.
Tahun 1942, Habib Ali hijrah ke Batu Pahat, Johor, Malaysia. Semasa hidupnya di negeri rantaunya yang baru ini, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang
Tempat Ziarah para Ulama

Semasa hidupnya, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang. Mereka yang berasal dari Nusantara dan negara-negara Arab, apabila berkunjung ke Malaysia, akan meluangkan waktu untuk mengunjunginya, demi mendapatkan mutiara nasihat dan keberkahan dari sosok yang jiwa dan raganya ini senantiasa bergantung kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Di antara petuah yang pernah ia sampaikan, "Allah SWT adalah Sang Khaliq. Manusia hanyalah makhluk. Maka, manusia harus mematuhi apa pun perintah Sang Maha Pencipta. Bukan Sang Maha Pencipta yang mematuhi perintah manusia."

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, bila berkunjung ke Malaysia, pun kerap menziarahi Habib Ali di Batu Pahat. Pada perjumpaan terakhirnya dengan Habib Ali, Al-Maliki mengatakan, ia meyakini bahwa Habib Ali adalah seorang yang diberi anugerah besar dari sisi Allah di negeri rantaunya ini. Sebelum pulang, Sayyid Muhammad Al-Maliki pun mengarang sebuah qashidah untuknya yang menggambarkan sifat-sifat mulia Habib Ali bin Ja'far Alaydrus.
Pernah suatu kali Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki rahimahullah berkunjung pada beliau, sepanjang jalan Sayyid Muhammad berbicara tentang rindunya pada Rasulullah saw, maka ketika sampai di kediaman beliau, maka semua tamu tidak diperkenankan masuk, kecuali Sayyid Muhammad Al Maliki, mereka masuk berdua cukup lama, lalu keluarlah Sayyid Muhammad Al Maliki dengan airmata yg bercucuran.., seraya berkata : hajat saya sudah terkabul… terkabul.., sambil menutup wajah beliau dengan linangan air mata.
Diantara Ulama yang pernah mengunjungi dan bersilaturrahmi kepada beliau antara lain, Al Habib Zein bin Ibrahim bin Semith dari Madinah, Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri (Hadramaut), Al Habib Umar bin Hafidh (Hadramaut), Al Habib Anis bin Alwi Al Habsyi dari Solo dan tokoh habaib dan ulama lainnya.

Tenggelamnya sebuah Bintang

Habib Ali wafat sekitar pukul 17.10 atau 17.15 petang waktu setempat. Syed Ibrahim dan Syed Ja'far, keduanya cucu Habib Ali, dari putranya yang bemama Syed Husein, di sampingnya ketika itu. Hari wafatnya ini menjelang lima hari sebelum haul ayahandanya, Habib Ja'far bin Ahmad, yaitu pada 3 Jumadil Akhirah.
Dari saat Habib Ali wafat waktu dimandikan keesokan harinya, jenazahnya tak putus-putus dikunjungi ribuan manusia dari segala penjuru dan lapisan masyarakat, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di antara yang hadir menyampaikan ta'ziyahnya pada saat itu adalah Syed Hamid bin Ja'far Al-Bar, mantan menteri luar negeri dan menteri dalam negeri Malaysia.

Begitu juga bacaan Al-Quran, Yaasin, dan tahlil tak putus-putusnya dibacakan hingga jenazahnya usai dimandikan oleh keluarga sekitar pukul 09.30, Jum'at pagi.
Karena begitu banyaknya penta'ziyah yang datang untuk dapat menghadiri prosesi shalat Jenazah, akhirnya jenazah Habib Ali dishalatkan sebanyak dua kali. Pertama, sebagaimana wasiatnya, dishalatkan di dalam rumah, yang diimami oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alaydrus, dan kedua di luar rumah, dengan imam Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al-Attas.

Jenazahnya kemudian dimakamkan sebelum shalat Jum'at, 29 Jumadil Ula 1431 H/14 Mei 2010, di Tanah Pekuburan Islam Bukit Cermai, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Habib Umar bin Hamid AI-Jilani dari Makkah yang membacakan talqin pada saat itu.
Habib Ali bin Ja'far Alaydrus meninggalkan seorang putri bernama Syarifah Khadijah dan tiga orang putra, yaitu Syed Muhammad, Syed Umar, dan Syed Husein. Semoga ketabahan dan ketawakalan mengiringi hati keluarga dan para pecintanya atas kepergian sosok yang amat mereka cintai dan muliakan ini.

Ulama adalah pewaris para nabi. Kepada para pewarisnya itu, Nabi SAW tidak mewariskan harta, tetapi beliau mewariskan ilmu kepada mereka, yang nilainya melebihi bilangan harta, seberapa pun besarnya. Siapa yang mengambil ilmu mereka, dia telah mengambil harta yang amat bernilai.
Oleh karenanya, wafatnya seorang ulama adalah musibah yang sulit tergantikan dan satu kelemahan yang susah ditutupi. Wafatnya seorang ulama ibarat sirnanya sebuah bintang di antara gugusan bintang-bintang lainnya. Rasulullah SAW mengatakan, "Sesungguhnya wafatnya satu kabilah lebih ringan musibahnya dibandingkan atas wafatnya seorang yang alim." (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Bayhaqi).

Kini Habib Ali telah tiada. Dengan segala kemuliaannya, ia telah berada di sisi Sang Khaliq. Tinggal kita semua yang saat ini telah ditinggalkannya. Kita yang masih banyak bergelimang dengan dosa. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah di atas jalan hidup kita, mengampuni kita atas dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai

SIRI KENALI ULAMA KITA : Nama : al-Habib Musa al-Kazim bin Ja’far bin Muhammad as-Saggaf

kelahiran : di Tarim , Hadramaut , Yaman . Tahun 1960
menghafaz al-Quran dan lain-lain ilmu yang berkaitan d Bandar Tarim daripada Para Masyayih dan para Habayib di sana , khususnya di pusat pengajian al-Quran Abi Maryam[1] , di Ribath Tarim[2] .
Seterusnya mendalami ilmu agama dengan bertalaqqi di hadapan para Ulama di Ribath al-Baidha’ , Bandar al-Baidha’, Yaman.
Apabila pulang ke Tarim , diberi tanggungjawab yang berat memimpin Institusi Pengajian Islam Darul Mustofa , cawangan Bandar al-Syihr[3], selama 6 tahun .
Seterusnya melebarkan dakwahnya mengajar di Ribath ar-Raudhah dan ribath an-Nuur di Bandar Mukalla[4]
sekarang ini menjadi guru di Institusi Pengajian Islam Darul Mustofa , Kampus Induk di Tarim . Juga sebagai ahli jawatankuasa Ifta’ di sini .
Beliau sering dijemput ke luar Negara bagi menyampaikan dakwah yang mulia di majlis-majlis ceramah, multaqa’, seminar dan sebagainya di serata dunia . Antaranya ksering ke Jerman , UK, Amerika , Norway dan lain-lain Negara di Benua Eropah , Afrika, termasuklah ke Asia Tenggara ini khususnya ke negara ini.
Tidak ketinggalan juga , banyak mengarangkan kitab-kitab agama bagi menyebarluaskan kebenaran Islam ke seluruh pelusuk Dunia .
-------------------------------------------------

[1] Abi Maryam : Terkenal sebagai pusat pengajian al-Quran dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya (seperti Tajwid, Qiraat dsbg) . Terletak di Bandar Tarim. Telah diasaskan lebih daripada 100 tahun yang lalu. Melahirkan ramai penghafaz al-Quran khasna di kalangan para Ulama.

[2] Didirikan pada tahun 1304h (1886m). Dipimpin oleh Mudir yang pertamanya: al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, kemudian al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, seterusnya al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri dan kini dipimpin oleh al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri. Dibina di tengah Bandar Tarim menjadi tumpuan ahli ilmu bagi mendalaminya. Melahirkan ramai para Ulama termasuk daripada rantau nusantara ini .

[3] Nama salah satu bandar di Negeri Hadramaut.

[4] Nama salah satu bandar di Negeri Hadramaut

SIRI KENALI ULAMA KITA : NAMA : Syeikh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Kattani

Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Ba’ith bin Ahmad bin Ghanim
ASAL KETURUNAN : Nasab keturunannya bersambung sehingga Sayyidina Husain RA
BAPA : Ibrahim bin Abdul Ba’ith bin Ahmad bin Ghanim
.TARIKH LAHIR : 01 Jun 1946 M
TEMPAT LAHIR : Bandar As-Saghr, Iskandariah, Mesir


Biodata Syeikh:
Beliau merupakan seorang muhaddith di negara Mesir. Dr. Umar Abdullah Kamil berkata mengenainya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sealim beliau di dunia ini.
Kebanyakan kandungan syarahannya tidak terdapat di dalam kitab-kitab kerana ilmunya diambil terus daripada Allah.” Beliau pernah menyatakan, bahawa beliau menjadi sedemikian setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memberikannya kitab karangan Syeikh Yusuf ibn Ismail al-Nabhani yang bertajuk Hujjah Allah ‘ala al ‘Alamin. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Semoga Allah membuka ke atas kamu segala sesuatu.” Beliau mempunyai ramai guru; di antaranya ialah ayahandanya sendiri, Syeikh Ibrahim ibn Abdul Ba’ith. Beliau mengambil Tariqat al Syazuliyyah daripada ayahandanya ini. Di antara gurunya yang lain ialah Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari, Imam Masjid al Azhar. Daripada Syeikh Soleh beliau mengambil Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah.
Beliau pernah menceritakan pengalaman dengan gurunya ini dengan menyatakan bahawa beliau pernah pergi ke majlis pengajian Syeikh Soleh untuk meminta ijazah Hizib al Saifi. Namun, beliau merasa rendah diri untuk memintanya. Tetapi, tiba-tiba Syeikh Soleh berkata kepada ahli majlis pengajiannya bahawa Hizib Saifi ini telah diijazahkan kepada semua keturunan Sayyiduna Ali. Dengan perkataan Syeikh Soleh itu, bererti beliau telah mendapat ijazah tersebut kerana beliau adalah dari keturunan Sayyiduna Husain.
Di antara gurunya juga ialah Abu al Faidh al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau mengambil Tariqat al Kattaniah yang dengannya beliau dinisbahkan dengan gelaran al Kattani. Di antara gurunya juga ialah al Muhaddisth Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari. Pada suatu ketika dulu, beliau pernah belajar bersama-sama Dr. Ali Jum’ah yang merupakan Mufti Mesir sekarang ini, dengan Syeikh Abdullah al Ghumari. Semasa belajar, beliau sering membetulkan bacaan Dr. Ali Jum’ah yang salah.

Di antara gurunya lagi, iaitu sanad beliau yang tertinggi ialah al Musnid Syeikh Abdul Hayy al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau meriwayatkan kitab sanadnya yang bertajuk Fahras al Faharis yang di dalamnya mengandungi senarai 700 orang gurunya

Saturday, April 16, 2011

Bob Lokman -Hidayah Allah dari dunia hiburan ke dunia Islam



Pengalaman Bob Lokman berdakwah di Sarawak semasa membantu kempen PAS semasa PR Sarawak

Kahwin Usia Muda dari pengalaman saya

Ramai sahabat minta saya tulis satu tajuk nikah usia muda melalui pengalaman saya untuk mereka berkongsi
pengalaman . Menikah muda, sepertinya saat ini  merupakan satu trend di kalangan generasi muda. Ada yang karena pemahaman agama, dengan pertimbangan untuk lebih menjaga hati dan menjauhi zina. Selain itu juga untuk merasakan nikmatnya keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.
Ada pula kerana terlanjur dalam hubungan seks pra nikah.


Nikah memang punya banyak makna. Ia bisa berarti menegakkan sunnah Rasul. Bisa juga sebagai pemenuhan tuntutan fitrah. Juga, sebagai penyambung keberlangsungan hidup umat manusia. Ada hal lain buat mereka yang nikah di usia muda. Nikah juga bermakna perjuangan
Hampir tak satu pun manusia yang betah membujang. Selalu saja ada hasrat untuk hidup berpasangan.

Diantara persoalan yang timbul dalam diri sebelum nikah dan begitu juga soalan yang masyarakat timbulkan kepada kita :
Masalahnya, bagaimana keindahan taman itu jika ikatannya terjalin di saat muda. Muda usia, muda pengalaman, muda pendidikan, dan muda penghasilan. Saat itulah terjadi pertarungan yang lumayan sengit: antara idealita dengan realita. Antara cita-cita tinggi dengan kenyataan hidup yang mesti diteruskan .

Pada mulanya seawal saya menjejak kaki ke alam pengajaian pondok , saya bertekat ingin berkahwian sekitaar usia 30-an . Tetapi apabila 7 tahun belajar pondok fitrah untuk memiliki teman hidup sangat kuat .
Saya bertekat untuk mencari pasangan hidup . Banyak ujian Allah dalam tempoh memilih calon. Akhirnya Allah mentakdirkan calon zaujah sebagai hadiah kepada saya . Alhamdulillah syukur tak terkata .Allah menghadiahkan rezeki yang mana saya idam-idamkan selama ini .


Hati saya hanya mahu teman hidup itu memahami hati , menemani dan menyokong perjuangan hidup dunia akhirat . Yakinlah saudara jangan risau , andai kita buat apa yang Allah perintah , tinggal yang Allah halang maka Allah akan beri sesuatu yang tidak kita sangka , seperti maksud dari terjemahan ayat 1000 dinar .
Andai saudara ingin calon terbaik maka amalkan dan pegang teguh dengan petua ini , saudara tidak perlu pening kepala untuk mencari , Allah akan hantar untuk saudara Insyallah ! . Allah akan atur perjalanan dengan mudah tanpa halangan! Yang penting hati mesti sentiasa mengharapkan bantuan Allah .

Pada mulanya saya sangat takut ada penentangan nikah muda dari ayah angkat saya (Tn Guru Hj Salleh)
tetapi Alhamdulillah apabila diceritakan kepada beliau maka beliau terima dengan tenang . Sebelum ini banyak kali beliau nasihatkan kepada saya " Kalau nak nikah biar umur 30-an "
Alhamdulillah tn guru dengar luahan hati dan rayuan saya maka beliau izinkan saya nikah . Munggkin beliau pertimbangkan keadaan semasa sekarang , lebih baik nikah muda asalkan hukum Allah terjaga .

Satu pengakuan jujur , sebelum nikah hati saya selalu rungsing /hati tidak tenang . Alhamdulillah setelah selesai akad hati menjadi tenag . Inilah hikmat nikah yang dianjurkan Syara . Hikmah dalam pernikahan itu sangat banyak . Saya fikirkan nikmat ini Allah bagi kepada kita apabila hukumnya kita jaga . Dulu sebelum nikah hati kita perbuatan kita terbatas , sangat mudah untuk mendapat dosa dari sebab percakapan , penglihatan dan lain-lain . Apabila dah nikah Alhamdulillah halal semuanya . Dari kerana itu hati kita tenag .
Kelebihan nikah muda
Apa kebaikannya berkahwin muda? Jadi, saya ada beberapa kebaikan kahwin muda yang saya boleh senaraikan, antaranya ialah:
1.Meramaikan manusia atas muka bumi atau spesifiknya membanyakkan zuriat umat Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya Nabi SAW bangga dengan umatnya yang ramai di hari akhirat nanti
2.Elak mendekati zina
3.Membantu memberi ketenangan hidup yang maksima
4.Ibadah yang berganda pahalanya dan lebih khusyu

Selain itu apabila kita sudah nikah Insyallah Allah akan tambah kekuatan untuk kita teruskan perjuangan .
Perjuangan kita lebih terasa manis sebab Allah hantar teman hidup yang memahami jiwa kita untuk menyokong perjuangan kita .

Tidak dinafikan faktor ujian dan cabaran nikah muda sangat mencabar !
Tetapi sebagai seorang hamba Allah perlu terima hakikat ini .
Maka kita berusha dan disamping doa Insyallah tidak menjadi masalah .

Petua apabila kita diuji semasa nikah muda .
Semasa kita terkena ujian walau berat ujuian itu ingat dihati kita , kita mesti sabar kerana
1 . Ini merupakan ujian untuk ku muggkin Allah hendak hapus doasa ku atau naik darjat kita disisi Allah .
2.  Walaupun berat diuji seperti masalah ekonomi , maka kita cari jalan usha cari rezeki , ingat ketika itu   ini semunya ibadat . Andai kita ingat benda itu ibadat maka Insyallah segala usha kita menjaga   
    zaujah/isteri kita , kita tidak akan terasa beban .

Saudara yang dikasihi
Tulisan ini hanya atas dasar perkongsian sahaja .
Bukan saya minta saudara yang sebaya saya percepatkan proses perkahwinan .
Saya hanya menceritakan pengalaman ini untuk yang sangat-sangat memerlukannya , tetapi tidak yakin .
Dan saya ingin saudara yakin dengan janji Allah dan dapat pelihara hukum Allah .
Terutama sekali jangan sekali terlibat Zina .Zina merupakan doasa besar , janag sekali hampiri .

UMMAH BERSELAWAT: BERSATU DI BAWAH PANJI MAHABBAH RASULULLAH S.A.W

Lihat klip dibawah ini
UMMAH BERSELAWAT: BERSATU DI BAWAH PANJI MAHABBAH RASULULLAH S.A.W: "Dunia zaman moden berpaksikan westernisasi ‘kuning’ peninggalan penjajah barat. Sistem dan cara hidup mereka telah memuntahkan gejala sosial..."

Muzakarah Kitab Bakurah (m/s 7) Siri 13

Al Alim Alamah Syeikh Ismail Fathani memulakan bahasan sifat yang berkait dengan Allah SWT
Sifat pertama yang wajib bagi Allah dan wajib kita pelajari adalah sifat Wujud .
Wujud Allah dengan maksudnya mesti ada diri Allah yang tidak seperti makhluk .
Ada Allah merupakan Wujud Zati ( ada Allah tidak seperti ada makhluk )
Dalilnya kita fikir , dalil Allah ada adalah dari keadaan alam atau makhluk ini yang berubah-rubah .
Makhluk ini mulanya tidak ada , makhluk ini harus Allah cipta atau tidak mahu cipta .
Maka makhluk ini ada mesti ada tukang yang menjadikannya , iaitulah Allah SWT
Alam atau makhluk ini ada dengan sebab Allah menjadikan .
Allah buat alam dari sebab adanya sifat Quderat , Iradat , Ilmu dan Hayat Allah SWT .
Sifat ini wajib ada pada Allah , maka sifat mesti ada zat (diri untuk sifat itu tumpang)
Kesimpulanya Allah mesti Ada .
Dalil akal ini menyokong dalil Al Quran dan Hadith
ampuni kami